Newsflash
Media
Media PDF Print E-mail
User Rating: / 0
Written by Administrator   
Sunday, 18 May 2008

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=313416&kat_id=85

Minggu, 11 Nopember 2007


Naomi Susan
Perempuan yang Berani Bertindak

Usianya belum 35 tahun, tapi perjalanan karier Naomi Susan melampui banyak perempuan seusia itu. Sejak 1997 ia adalah pemegang saham/investor aktif/pemilik Ovis Group. Ia menjadi direktur di tujuh perusahaan dari sekitar sembilan bidang usaha di Ovis Group.

Sebuah majalah ekonomi menempatkannya sebagai seorang dari 20 pengusaha sukses di bawah usia 35 tahun di Indonesia. Namanya juga tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai pembeli pertama komputer notebook berlapis emas dan bertahtakan berlian.

Semua itu tak ia gapai dalam sekali mendayung. Saat mulai terjun di dunia bisnis, perempuan kelahiran Medan, 15 Januari 1975, ini justru tidak menemukan manisnya dunia usaha. Kala itu, 1996 --di usia 21 tahun-- ia terjun ke lantai bursa, memainkan tabungan dari penghasilannya sebagai account executive sebuah perusahaan periklanan. Kalah di lantai bursa, tabungannya tergerus.

''Saya sempat trauma. Saya kapok. Saya boleh dibilang babak belur, dalam artian saya tidak mau lagi kerja pakai uang sendiri. Saya dulu bekerja sama orang, setiap bulan terima gaji. Aman. Sementara, memainkan uang sendiri ternyata uang saya yang kena. Setiap bulan tidak dapat gaji, malah habis,'' ujar perempuan yang pada Agusus 2005 dinobatkan sebagai Simbol Prestasi Disiplin 2005.

Lulusan Marketing Communication, University of Portland, Oregon, Amerika Serikat, ini lalu memutuskan melanjutkan studi di Australia. Sambil menunggu proses pengurusan surat-surat, ia melamar ke PT Ovis Utama, perusahaan jaringan diskon di bidang restiran dan kafe. Lamarannya sempat ditolak, karena ia dinilai over qualified untuk posisi yang dilamarnya. Sebulan berselang, ia dipanggil mengisi posisi public relations.

Saat perusahaan ini terpilih memegang master franchise dari Card Connection International, pimpinan perusahaan menawari Naomi menjadi pemegang saham. Trauma peristiwa sebelumnya, tawaran itu tidak segera ia terima. Setelah diyakinkan dan diberikan fleksibilitas risiko kerugian, ia baru mengangguk. Naomi membeli saham dan menjadi direktur.

Ternyata, dalam perjalanan waktu, 1997, krisis moneter menghadang. Kemampuannya diuji. Perusahaan yang dipimpinnya menerapkan strategi dengan memberikan fasilitas gratis untuk keluar dari krisis. Strategi itu cukup jitu. Sukses Card Connection membawa Naomi menjadi pebisnis tangguh yang memberinya berbagai penghargaan. Perusahaannya melebar, merambah ke bidang restoran, kafe, jual beli properti, sampai pesawat carter.

Saat ini, Naomi masih harus menyisihkan waktunya untuk menyelesaikan pembuatan buku berjudul Be Negative. ''Konsepnya menjual segala jenis kegagalan, dengan pesan yang terkandung adalah memberikan memotivasi, inspirasi, dan setiap orang memiliki hak untuk sukses,'' ujar dia.

Di sela-sela kesibukannya yang padat, Naomi Susan menerima Burhanuddin Bella dari Republika bersama fotografer Yogi Ardhy untuk wawancara di ruang kerjanya di bilangan Jl S Parman, Jakarta. Ia tak hanya mengisahkan perjalanan kariernya, tapi juga mimpi-mimpinya. ''Yang jelas, mimpi dalam waktu dekat ini, saya mau memiliki pasangan hidup,'' ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini. Berikut petikannya:

 

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Yang mengawali mengapa saya seperti ini, ya, saya berani. Yang namanya keajaiban itu ada hanya kepada orang-orang yang berani. Belasan tahun lalu, saya cukup berani untuk memutuskan bahwa saya mau ini. Saya tahu apa yang saya mau. Dan, saya mau apa yang saya tahu. Apa yang saya mau, berarti apa yang belum saya punya. Dan, saya tahu apa yang saya belum punya. Jadi, saya harus tahu dan saya harus mau. Itu tahap demi tahap. Saat usia itu, saya kepengin sekali menjadi orang yang kaya, pengin menjadi orang yang terkenal. Tapi, seiring dengan waktu, usia bertambah, pola pikir juga berubah.
Jadi, saat saya menginginkan menjadi orang kaya, ternyata saya mendapatkan banyak kendala yang boleh dikatakan masuk ke dalam dosa. Saya jadi sombong, mengecewakan orang. Jadi, masa-masa tersebut saya lewati dan memang harus saya lewati supaya saya tahu,''Oh, ternyata kalau sombong akibatnya begini. Kalau saya mengecewakan orang, rasanya kayak begini.'' Saya dikecewakan orang juga. Saya belajar banyak dari situ. Dan, memang harus saya lewati supaya saya tahu. Setelah pola pikir saya berubah, saya ingin terkenal, ternyata saya salah. Saya tidak mau itu. Saya mau dikenal, bukan terkenal. Menjadi terkenal itu tidak senyaman dan tidak sebaik dikenal. Kenapa investornya mau bergabung? Bukan karena bisnisnya, bukan karena Naomi Susan terkenal, tapi karena Naomi Susan dikenal oleh si investor ini.

 

Apa yang memberi inspirasi hingga ada keinginan kaya dan dikenal?
Yang jelas, sesuatu yang saya belum punya, sesuatu yang saya tahu, dan sesuatu yang saya mau, adalah keadaan. Saya tidak terlahir dari orang yang mampu, orang yang kaya. ''Kenapa anak-anak orang lain mampu sekolah sampai tinggi, ke luar negeri, saya tidak? Oh, karena saya tidak punya uang, karena keluarga saya bukan orang kaya.'' Itu menjadi motivasi, karena keadaan saya yang saya mau ubah. Saya mau mengubah taraf hidup saya menjadi lebih baik dan lebih berhasil.

 

Banyak orang melihat Anda sekarang sudah sukses. Menurut ukuran Anda?
Bagi saya, sukses itu sama dengan fana. Suksesnya di mana? Dalam hal keuangan? Kalau dalam hal keuangan, bohong kalau dia tidak mau sukses yang lain. Mungkin sukses dalam rumah tangga, sukses dalam mendidik anak, atau sukses di dalam membangun citra dirinya di masyarakat. Tidak pernah ada batasnya. Real sukses yang saya dapatkan dalam perjalanan hidup ini adalah saat nanti batasan itu selesai. So, you can't go anywhere, ''Kamu tidak bisa ke mana-mana lagi. Anda akan kembali, Anda mati, orang akan melihat dan datang ke Anda menangis dan begitu menghargai Anda.'' Seberapa banyak orang akan membicarakan Anda, seberapa banyak orang akan menghargai Anda, itulah sukses yang sebenarnya. Saya tidak menganggap adanya sukses di dalam hidup saya saat ini. Saya mau terus dan terus, tidak pernah berhenti. Apabila saya sudah mendapatkan pencapaian satu titik yang saya inginkan, mimpi saya sudah menjadi nyata, ada mimpi lain. Itu tidak akan ada habisnya. Jadi, sukses bagi saya tanpa batas.

 

Menurut Anda, kesuksesan yang Anda raih diperoleh dari networking, motivasi, atau kemampuan diri?
Kalau pengalaman saya, sesuatu yang dicapai itu karena satu kata: Bertindak. Lakukan saja. Banyak sekali orang yang pintar berpikir dengan mimpi yang tinggi, yang memiliki ide brilian, tapi hanya sedikit orang yang berani menjadikannya dan bertindak. Mengeksekusi sesuatu yang ada di pikiran mereka dengan keberanian.

 

Orang tidak ada yang sempurna. Ada kekuatan dan kelemahan. Menurut Anda, kekuatan Anda di mana?
Kekuatan saya di mulut saya. Saya itu talk active. Saya tahu, saya pintar ngomong. Makanya saya mempertajam dan mengasah kepintaran saya itu. Saya tahu bahwa saya pintar, tapi saya tidak merasa pintar karena banyak orang yang lebih pintar dari saya. Saya tahu pintarnya saya di mana, jadi saya asah itu menjadi maksimal. Makanya saya sekolah di bidang komunikasi. Dulu saya pernah ditawari jadi pengacara karena faktor saya bisa bicara dengan baik, tapi saya memilih ini.

 

Sebelumnya Anda seorang karyawan, sekarang telah menjadi pebisnis. Apa arti dunia bisnis bagi Anda saat ini?
Bagi saya, ini dunia pembelajaran. Banyak sekali saya belajar dari sini. Belajar bagaimana cara marah, bagaimana cara frustrasi, bagaimana cara membenci orang, bagaimana mencintai orang, bagaimana bisa menjadi konsultan yang baik, teman yang baik, kadang menjadi musuh yang baik. Jadi, penuh dengan pembelajaran hidup. Saya mengalami sendiri bagaimana karakter saya terbentuk menjadi orang yang tidak cengeng, tidak mudah mengeluh, tanpa putus asa. Saya belajar semuanya dari bidang bisnis. Bagaimana saya mendapatkan guru-guru saya yang terbaik, itu di bisnis.

 

Guru seperti apa yang Anda dapatkan?
Saya menemukan tiga orang guru yang luar biasa sekali bagi saya. Pertama orang yang jahat sekali, itu guru terbaik saya. Saya belajar dari sana untuk tidak melakukan itu. Kedua, saya menemukan betapa seseorang itu pebisnis yang sudah berpengalaman jatuh bangun dan sangat baik, sangat bijaksana. Luar biasa sekali manusia ini. Itu guru saya yang kedua. Guru ketiga diri saya sendiri. Saya banyak melakukan kesalahan. Saya bandel, saya nakal, saya tahu itu bahaya, saya lakukan juga. Saya kejeblos, saya hancur-hancuran, dan saya belajar dari diri saya sendiri.
Ketiganya bukan mewakili satu orang, banyak sekali. Bahkan saya melihat kemampuan seorang OB tanpa memiliki arogansi tapi bisa berhasil, sukses melebihi dari orang yang memiliki gelar S-1 yang arogan. Mereka guru saya juga. Keseharian saya, saya bertemu dengan banyak orang. Itu merupakan alarm-alarm kehidupan buat saya. Saat seseorang bilang, 'Naomi itu pintar sekali', saya langsung mendapatkan alarm, apakah benar saya pintar? Berarti setiap kali ketemu orang ini, ketemu orang lain, saya harus menempatkan diri saya sebagai orang yang pintar. Jadi, saya harus belajar banyak, jangan sampai saya kelihatan tidak pintar. Ada yang yang bilang, ''Naomi kamu disiplin sekali, disiplin waktu.'' Itu alarm buat saya. Akhirnya saya harus melakukan itu, jadi terbiasa dan sudah menjadi naluri hidup, tidak betah kalau tidak begitu.

 

Orang melangkah ke depan punya pegangan, punya moto. Anda sendiri?
Kalau saya, expect the best and and get it!. Hanya sesingkat itu, tapi maknanya sangat luas. Apa pun saya harapkan sesuatu itu baik dan saya selalu melihat segala sesuatu dengan positif. Apa pun yang negatif yang berada di sekitar saya, itu saya jadikan positif. Misalnya, saya ke dokter naik taksi. Saya ngobrol lama sekali. Dokter bilang, ''Itu taksi argonya sudah mahal?'' Berarti itu sisi negatif bagi saya, karena saya harus bayar mahal. Tapi, saya langsung menjadikannya positif. Satu, memang rezeki tukang taksi itu tanpa harus capek dapat order besar dengan menunggu. Kedua, pada akhirnya kita punya waktu bicara lebih lama, itu sudah rezeki kita. Kita akhirnya mendapatkan ide-ide baru, mendapatkan solusi permasalahan baru.

 

Ngomong-omong, apa sih yang Anda cari dalam hidup ini?
Ini sudah masuk dunia lain. Kita harus terbang dari tubuh dan aksesoris seorang Naomi sebagai seorang pebisnis. Sebenarnya saya mau mencari sebuah keseimbangan. Karena bagaimanpun, mau atau tidak mau, kita memang harus balance. Kembali lagi kepada bagaimana kita bisa menyetarakannya. Kalau sekarang saya sibuk dengan pekerjaan, di sisi lain saya kurang. Saya harus punya pasangan hidup. Saya kepengin sekali, pagi-pagi pergi ke kantor, anak saya da da da. Itu kan berarti balance antara rumah tangga dan karier. Sekarang belum balance.
Kemudian, apa sih yang sebenarnya menjadi tujuan saya? Saya hanya kepengin menjadi orang yang layak, apabila saya sudah waktunya untuk 'kembali'. Jadi, apabila saya belum layak untuk bertemu dengan Pencipta saya, apalagi kalau saya belum kenal baik dengan Pencipta saya, belum menjadi orang yang tahu diri sebagai orang yang diciptakan, ya saya lebih baik jangan 'pulang' dulu. Jadi, sesuatu yang di luar dari aksesoris saya sebagai pebisnis, tujuan saya hanya itu. Saya mau mendapatkan kelayakan dan kepantasan apabila saya sudah bertemu dengan Pencipta saya.

 

Apa sih kendalanya hingga keseimbangan itu belum tercapai?
Kalau dilihat dari realitas, masih terdapat egois dan idealis, sehingga keseimbangan itu tidak terjadi. Saya tidak pernah menyesali itu, saya tidak pernah menggerutu atau memikirkan apa yang saya belum punya. Karena yang Punya melebihi dari itu semua. Saya terbiasa berterima kasih dan bersyukur dengan apa pun yang saya miliki. Saya tidak mau mengeluh dengan apa yang saya belum dikasih.

 

Pernahkah Anda berada dalam kesendirian, merenungkan perjalanan hidup Anda? Apa yang Anda rasakan?
Saya jarang di situasi seperti itu. Tapi, kalau merenung, terutama bicara pada diri sendiri, bicara sama Tuhan, di mana pun saya melakukan itu. Lebih sering di mobil, karena saya menyetir sendiri, jalanan macet. Saya suka ngobrol sama Tuhan, ngobrol sama diri sendiri. Tapi, jarang saya lakukan mengingat masa lalu saya. Buat saya, segala kekhawatiran saya di masa lalu sudah selesai. Makanya kita bisa mengendalikan dan menguasai masa lalu itu sehingga adanya hari ini. Tapi, masa lalu menjadi tolok ukur. Apa yang salah di masa lalu, jangan dibuat lagi di masa sekarang. Saya juga tidak mau memikirkan kekhawatiran saya di masa depan. Saya hanya khawatir pada hari ini. Hari ini saya punya jatah hidup apakah sampai penuh 24 jam? Kalau tidak penuh apa yang saya lakukan?

 

Kirim Mahasiswa Studi Kewirausahaan di Malaysia

Naomi mengaku bisa kuliah di Amerika karena adanya bantuan dari berbagai pihak. ''Perjalanannya jadi kenangan indah sekarang. Usaha dari beberapa keluarga dan teman. Banyaklah bantuan orang-orang,'' ujar penggemar traveling ini.

Saat berupaya bangkit dari jatuh, Naomi mendapat dukungan fleksibilitas dalam berbisnis. ''Oke saya membantu kamu. Apabila terjadi rugi, sekian periode, kamu tidak usah menanggung kerugian itu. Tapi, saat sudah mendapatkan income, kita baru fair-fairan deh. Kalau ada rugi, kita tanggung sama-sama,'' ujar Naomi mengulang ucapan Wibowo Gunawan, yang mengajaknya berbisnis.

Naomi menganggap Wibowo sebagai guru yang baik, yang sabar memberikan pengarahan. ''Dia bilang, kalau saya trauma dengan sesuatu, trauma dengan kedalaman, misalnya berenang, saya harus menceburkan diri ke dalam traumatik saya itu. Jadi, kalau takut nyemplung ke dalam kolam renang, kita tidak akan takut apabila kita tahu berapa dalam itu. Jadi, nyebur dan ukur dalamnya, sejauh mana kamu akan tenggelam. Dari situ kamu bisa mengantisipasi,'' ujar Naomi.

Sukses yang diraihnya kini ikut mengantarkan dirinya kembali ke dunia pendidikan. Institute Optopreneur (IO) Malaysia yang disponsori oleh England Optic Group menunjuk Naomi Susan sebagai kepala perwakilan di Indonesia. Lembaga pendidikan milik Dato Dr Chin See Keat yang menerapkan metode on the job training ini memberikan kepercayaan kepada Naomi untuk memilih calon peserta yang berhak mendapatkan beasiswa dari seluruh Indonesia. ''Ini baru bagi saya. Tapi, bagaimana cara menjalankannya atau mempromosikannya, itu biasa, karena saya tahu kekuatan saya di marketing, lobbying, speaking. Seorang salesman yang baik harus bisa menjual apa pun yang diberikan kepadanya,'' ujar Naomi.

 

Dr Dato Chin itu teman lama Anda?
Tidak. Kita baru kenal. Sebenarnya ada beberapa kandidat yang dicari oleh team work-nya. Saya bertemu Dato itu setelah melalui beberapa tahapan seleksi. Jadi kalau misalnya mau main sinetron, saya tidak langsung dapat peran, casting dulu.

 

Tawaran itu diambil karena melihat ada peluang atau karena ada misi sosial di dalamnya?
Saya mengesampingkan sisi sosial dalam pembahasan. Saya lebih mau dalam tindakan. Sisi sosial tidak harus dikatakan, tidak harus disebutkan.

 

Last Updated ( Sunday, 18 May 2008 )
Read more...