|
Naomi Susan; Muda, Cantik, Kaya Prestasi Bersahaja, cantik, muda dan sedikit ‘bandel’, mungkin itu yang ada di benak kita ketika pertama bertemu, namun siapa sangka, gadis mungil kelahiran Januari 1975 ini adalah salah seorang Direktur di beberapa perusahaan yang terbilang cukup sukses dalam belantara bisnis Indonesia. Perjalanan karir Naomi Susan memang terbilang unik, perempuan ini sempat kesulitan membangun jaringan, namun penyuka warna merah ini justru memanfatkan kelebihan pada dirinya untuk menjalin hubungan dengan para kliennya, “Aku sadar betul jika manusia itu memiliki kekurangan dan kelebihan”, ujarnya. Kelebihan pada dirinya dalam berkomunikasi, membuat ia memutuskan meneruskan pendidikan di Jurusan PR dan Comminication Bisnis. Naomi sadar betul bahwa kelabihanya berada di ’mulut’, hingga perlu di asah secara profesional sebagai bekal bekerja. ”Karena ’mulut’ itu juga saya sempat ditawari menjadi seorang pengacara”, aku Naomi.
Hal serupa juga pernah ia alami ketika ia menjadi pemilik saham PT. OVIS INTERNATIONAL yang bergerak di bidang Card Connection International sebagai seorang direktur. ”Mungkin klien saya beranggapan, direkturnya kecil begini, jangan-jangan perusahaanya juga perusahaan main-mainan” ungkapnya dengan nada jenaka. Gadis Lulusan University of Portland Oregon USA (Marketing Communications/ PR) ini juga bercerita, bahwa lamarannya sempat ditolak oleh PT. Ovis Utama (produk Ovis Dining club) sebelum dipanggil kembali untuk menduduki jabatan sebagai PR. Pemilik hidung bangir ini tahu kenapa ia dulu ditolak, ”Pak Wibowo Gunawan (pemilik perusahaan/President Director) mengatakan bahwa saya too qualified untuk jabatan yang dulu saya lamar,” ungkapnya. Sebelum bergabung dengan PT. Ovis International dan sukses seperti sekarang, Naomi sempat mengalami masa-masa sulit. Ketika masih bekerja di Perusaahaan Advertising Company sebagai AE (Account Executive), ia berniat mempunyai usaha sendiri. Naomi sempat terjun di lantai bursa. Namun usaha tersebut gagal, modal yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit nyaris habis. ”Rasanya perih sekali waktu itu”, ujar pehobi olah raga ini. |